Muhammadrudi’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Peran Manajer di Lembaga Pendidikan

Seiring dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan salah satu penentu mutu Sumber Daya Manusia. Keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM). Mutu Sember Daya Manusia (SDM) berkorelasi positif dengan mutu pendidikan, mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam pendidikan, komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta biaya. Oleh Karena itu pembenahan manajemen pendidikan sangatlah diperlukan.

Perlunya manajemen dalam pendidikan adalah untuk mengantisipasi perubahan global yang disertai oleh kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi informasi. Perubahan itu sendiri sangat cepat dan pesat, sehingga perlu ada perbaikan yang berkelanjutan (continous improvement) di bidang pendidikan sehingga output pendidikan dapat bersaing dalam era globalisasi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi. Persaingan tersebut hanya mungkin dimenangkan oleh lembaga pendidikan yang tetap memperhatikan kualitas pendidikan dalam pengelolaannya. Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep, dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Pendidikan yang bermutu sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang professional. Tenaga kependidkan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan pengetahuan, ketrampilan, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu tenaga kependidikan yang profesional akan melaksanakan tugasnya secara profesional pula sehingga menghasilkan tamatan yang lebih bermutu. Menjadi tenaga kependidikan yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya. Pengembangan profesionalisme ini membutuhkan dukungan dari pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah seorang penyelenggara pendidikan. Seorang penyelenggara pendidikan haruslah benar-benar bertindak sebagai manajer di sekolahnya masing-masing, agar lembaga pendidikan itu mampu melaksanakan misinya sebagaimana mestinya (Pidarta, 2000).

Seorang penyelenggara pendidikan di sebuah lembaga pendidikan menurut Made Pidarta (2000) mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:

  1. Menjadi manajer lembaga pendidikan tersebut dengan tugas-tugas sebagai berikut:
    1. mengadakan prediksi tentang kemungkinan perubahan lingkungan seperti perubahan ilmu dan teknologi, tuntutan hidup, aspirasi masyarakat, dan sebagainya.
    2. Merencanakan dan melakukan inovasi dalam pendidikan.
    3. Menciptakan strategi dan kebijakan lembaga agar proses pendidikan tidak mengalami hambatan.
    4. Mengadakan perencanaan dan menenukan sumber-sumber pendidikan.
    5. Menyediakan dan mengkoordinasi fasilitas pendidikan.
    6. Melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan agar tidak terlanjur membuat kesalahan.
  2. Menjadi pemimpin lembaga pendidikan:
    1. Memimpin semua bawahan.
    2. Memotivasi agar bekerja dengan rajin dan giat.
    3. Meningkatkan kesejahteraan bawahan.
    4. Mendisplikan para pendidik dan pegawai dalam melkasnakan tugasnya.
  3. Sebagai supervisor atau pengawas:
    1. Mengawasi dan menilai cara kerja dan hasil kerja pendidik dan pegawai.
    2. Memberi supervisi dalam meningkatkan cara kerja.
    3. Mencari dan memberi peluang untuk meningkatkan profesi para pendidik.
    4. Mengadakan rapat-rapat untuk memperbaiki pendidikan dan pengajaran.
  4. Sebagai pencipta iklim bekerja dan belajar yang kondusif dengan tugas-tugas:
    1. menempatkan personalia secara benar sesuai dengan keahlian dan keterampilannya.
    2. Membina hubungan personalia yang positif
    3. Meningkatkan dan memperlancar komunikasi.
    4. Menyelesaikan konflik.
    5. Meningkatkan dan memelihara persatuan dan kesatuan personalia.
  5. Sebagai pencipta lingkungan bekerja dan belajar yang kondusif, dengan tugas-tugas:
    1. Menghimpun dan memanfaatkan informasi tentang sumber belajar.
    2. Memperkaya alat-alat belajar, alat-a;at peraga, dan media pendidikan.
    3. Memperkaya lingkungan hidup.
    4. Mengharmoniskan lingkungan lembaga dan ruangan kelas.
  6. Menjadi administrator lembaga pendidikan dengan tugas menyelenggarakan kegiatan rutin yang dioperasikan oleh para personalia lembaga:
    1. Mengendalikan struktur organisasi
    2. Melaksanakan administrasi substantive
    3. Melakukan pengawasan terhadap efektivitas dan efisiensi kerja
  7. Menjadi koordinator kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat:
    1. Berinisiatif membentuk suatu badan kerjasama.
    2. Mengadakan survey untuk menampung aspirasi masyarakat.
    3. Menghimpun dukungan masyarakat.
    4. Melaksanakan kerjasama dengan masayarakat.

Seorang manajer di sebuah lembaga pendidikan adalah seorang pimpinan penyelenggara pendidikan di lembaga pendidikan tersebut. Dalam suatu sekolah, manajer di lembaga tersebut adalah seorang kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pememliharaan sarana dan prasarana”. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan keprofesionalan kepala sekolah ini pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena sesuai dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia pimpin sehingga kompetensi guru tidak hanya mandeg pada kompetensi yang ia miliki sebelumnya, melainkan bertambah dan berkembang dengan baik sehingga profesionalisme guru akan terwujud.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, selain harus tahu dan paham tugasnya sebagai pemimpin, yang tak kalah penting dari itu semua seyogyanya kepala sekolah memahami dan mengatahui perannya. Adapun peran-peran kepala sekolah yang menjalankan peranannya sebagai manajer seperti yang diungkapkan oleh Wahjosumidjo (2002) adalah: (a)Peranan hubungan antar perseorangan; (b) Peranan informasional; (c) Sebagai pengambil keputusan.

Dari tiga peranan kepala sekolah sebagai manajer tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Peranan hubungan antar perseorangan

  • Figurehead, figurehead berarti lambang dengan pengertian sebagai kepala sekolah sebagai lambang sekolah.
  • Kepemimpinan (Leadership). Kepala sekolah adalah pemimpin untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah sehingga dapat melahirkan etos kerja dan peoduktivitas yang tinggi untuk mencapai tujuan.
  • Penghubung (liasion). Kepala sekolah menjadi penghubung antara kepentingan kepala sekolah dengan kepentingan lingkungan di luar sekolah. Sedangkan secara internal kepala sekolah menjadi perantara antara guru, staf dan siswa.

b. Peranan informasional

  • Sebagai monitor. Kepala sekolah selalu mengadakan pengamatan terhadap lingkungan karena kemungkinan adanya informasi-informasi yang berpengaruh terhadap sekolah.
  • Sebagai disseminator. Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menyebarluaskan dan memabagi-bagi informasi kepada para guru, staf, dan orang tua murid.
  • Sebagai spokesman. Kepala sekolah menyabarkan informasi kepada lingkungan di luar yang dianggap perlu.

c. Sebagai pengambil keputusan

  • Enterpreneur. Kepala sekolah selalu berusaha memperbaiki penampilan sekolah melalui berbagai macam pemikiran program-program yang baru serta malakukan survey untuk mempelajari berbagai persoalan yang timbul di lingkungan sekolah.
  • Orang yang memperhatikan ganguan (Disturbance handler). Kepala sekolah harus mampu mengantisipasi gangguan yang timbul dengan memperhatikan situasi dan ketepatan keputusan yang diambil.
  • Orang yang menyediakan segala sumber (A Resource Allocater). Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menentukan dan meneliti siapa yang akan memperoleh atau menerima sumber-sumber yang disediakan dan dibagikan.
  • A negotiator roles. Kepala sekolah harus mampu untuk mengadakan pembicaraan dan musyawarah dengan pihak luar dalam memnuhi kebutuhan sekolah.

Upaya peningkatan profesionalisme kepala sekolah selaku manajer merupakan proses keseluruhan dan organisasi sekolah serta harus dilakukan secara berkesinambungan karena peubahan yang terjadi selalu dinamis serta tidak bisa diprediksi sehingga kepala sekolah maupun tenaga kependidikan harus selalu siap dihadapkan pada kondisi perubahan. Ada istilah seorang tenaga pendidik yang tadinya professional belum tentu akan terus professional bergitupun sebaliknya, tenaga kependidikan yang tadinya tidak professional belum tentu akan selamanya tidak professional. Dari pernyataan itu jelas kalau perubahan akan selalu terjadi dan menuntut adanya penyesuaian sehingga kita dapat mengatasi perubahan tersebut dengan penuh persiapan. Upaya peningkatan keprofesionalan kepala sekolah tidak akan terwujud begitu tanpa adanya motivasi dan adanya kesadaran dalam diri kepala sekolah tersebut serta semangat mengabdi yang akan melahirkan visi kelembagaan maupun kemampuan konsepsional yang jelas. Dan ini merupakan faktor yang paling penting sebab tanpa adanya kesadaran dan motivasi semangat mengabdi inilah semua usaha yang dilakukan untuk meningkatkan keprofesionalannya hasilnya tidak akan maksimal dan perealisasiannyapun tidak akan optimal.

REFERENSI

Damayanti, Sri. 2008. Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah. Online Pada: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/diskusi-dan-opini-anda/. Diakses Tanaggal 19 Agustus 2008.

E. Mulyasa. 2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Pidarta, Made. 2000. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Januari 3, 2009 - Posted by | 1

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: