Muhammadrudi’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Peran Guru dalam Pembelajaran Fisika

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas. Usaha ini dilakukan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Hal ini dilakukan untuk menghadapi kemaujuan ilmu dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat dewasa ini. Fisika sebagai salah saru mata pelajaran di sekolah mempunyai peran yang sangat besar dalam memajukan IPTEK, karena fisika sebagai bagian dari IPA dipandang sebagai sekumpulan pengetahuan (a body of knowledge), cara berpikir (a way of knowledge), dan sebagai cara penyelidikan (a way of investigating). sebgai kumpulan pengetahuan, fisika membahas fakta, konsep, prinsip hukum, dan teori.

Seiring dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, isu mengenai merosotnya kualitas pendidikan tetap menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan. Pengajaran fisika sering dianggap kurang berhasil juka ditinjau dari hasil belajar siswa. hal ini dilihat dari kenyataan bahwa nilai ujian fisika selalu lebih rendah dari pada niali ujian mata pelajaran yang lain.

Salah satu kunci sukses dalam memajukan pendidikan adalah guru. Sudjana, N.(2002:1) mengemukakan bahwa guru mempunyai posisi sentral. guru harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, kemudian menerjemahkan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses belajar mengajar di sekolah. Bagaimanapun baiknya kurikulum jika tidak diimbangi dengan peningktan kualitas guru-gurunya, tidak akan membawa hasil yang diharapkan (Hamalik, 2002:32).

Banyak guru mengajar dengan cara yang kurang menarik, membosankan, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga proses belajar menjadi kaku, monoton, kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa terutama dalam hal pemecahan masalah. Hal ini akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, sebab pemecahan masalah menuntut siswa untuk terlibat dan aktif dalam mencari solusi dengan memberdayakan semua keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Pembelajaran yang inovatif yang relevan dengan keterlibatan dan peran aktif siswa dalam pembelajaran adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan keterkaitannya dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dari pembelajaran tersebut adalah pembelajaran yang menekankan agar siswa sendiri yang akan membangun pengetahuannya, sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran bagi siswa untuk meningkatkan pengetahuan awal yang dimilikinya. Ausubel (Dahar, 1996), menyatakan bahwa faktor yang paling penting dalam mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Disini siswa dituntut untuk dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Menurut Nur dan Wikandari (2000: 2), guru dapat membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi yang diberikan oleh guru menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menetapkan ide-ide mereka sendiri untuk belajar. Disini siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Selanjutnya Nur dan Wikandari (2002), mengatakan bahwa guru dapat memberi siswa “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat “tangga” tersebut.

Kurikulum 2004 disebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi.  Kurikulum ini bertujuan menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan, sekaligus mengintegrasikan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup ini perlu dimiliki seseorang untuk berani menghadapi masalah hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, serta mendorong seseorang untuk proaktif dan kreatif menemukan solusi setiap permasalahan yang terjadi (Depdiknas, 2004). Salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki itu adalah kecakapan sosial yang meliputi kecakapan komunikasi lisan, komunikasi tertulis, dan kecakapan bekerjasama. Kecakapan sosial merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Berdasarkan hasil  penelitian Goleman (dalam Tilaar, 2004) menunjukkan bahwa kehidupan manusia sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh emosinya. Emosi seseorang yang tidak matang akan menyulitkannya berkomunikasi, bekerjasama dan mencapai konsensus, serta kurang toleransi.

Pentingnya kecakapan sosial sangat dirasakan pada zaman globalisasi sekarang ini. Anggota masyarakat sebagai individu, kelompok bahkan negara saling menjalin kerjasama dalam mempertahankan eksistensinya. Untuk itu diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik, saling bantu-membantu dan tolong-menolong antara kelompok-kelompok. Berbagai alat komunikasi diciptakan manusia untuk mempermudah interaksi komunikasi tersebut.

Model pembelajaran kooperatif menjadi alternatif model pembelajaran  yang dapat diterapkan. Model kooperatif ini lebih menekankan pada interaksi dan komunikasi dalam pembelajaran serta menekankan pada proses pembentukan pengetahuan secara aktif oleh siswa. Schroeder dan koleganya (dalam Mel Silberman, 2002) memberikan indikator tipe Myers-Brigg (MBTI) yang berguna untuk memantau peran individu yang berbeda-beda dalam proses belajar. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 60% siswa mempunyai orientasi belajar praktis bukan teoritis, dan persentasenya meningkat dari tahun ke tahun. Peserta didik lebih suka terlibat langsung, pengalaman kongkret daripada konsep dasar lebih dahulu dan menerapkannya kemudian. Pada penelitian lainya, Schroeder (dalam Mel Silberman, 2002) menunjukan bahwa mayoritas para peserta didik sekolah lanjutan atas lebih menyukai belajar melalui aktivitas dengan perbandingan 5:1.

Dalam perkembangan belajarnya, sejak tahap pendidikan dasar siswa sudah mempunyai konsepsi awal tentang pembelajaran. Tidak layak siswa dianggap mempunyai dasar pengetahuan yang kosong sehingga dapat diisi dengan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak mesti berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru (Anita Lie, 2004).

Beragam potensi dan aspek pengetahuan siswa dalam kelas dapat dikembangkan guru dengan cara menawarkan model, pendekatan dan tipe pembelajaran yang berbeda-beda. Keragaman model dengan pendekatan yang bervariasi dapat menjangkau lebih banyak sisi kebutuhan siswa (M. Dahlan, 1990). Dengan demikian dalam mencapai penguasaan konsep-konsep fisika dapat juga dikembangkan aspek sosial siswa dengan cara memilih pendekatan dan tipe pembelajaran yang cocok.

Diantara banyak model pembelajaran kooperatif, model yang diaplikasikan dengan kelompok kecil memberikan peluang yang besar pada anggota kelompoknya untuk berekspresi mendemonstrasikan pengetahuannya. Kelompok belajar secara berpasangan adalah salah satu bentuk kelompok kecil yang dapat dipakai untuk meningkatkan peranan siswa dalam pembelajaran. Kelompok belajar yang besar sering didominasi oleh siswa yang pintar sehingga siswa yang berkemampuan sedang dan rendah kurang mendapat kesempatan dalam pembelajaran.

Proses belajar mengajar kadang kala membosankan apabila materi yang disampaikan kurang menarik, terutama pada beberapa mata pelajaran yang membutuhkan visualisasi untuk memahaminya. Melihat hal itu, maka diperlukan media pembelajaran yang dapat memecahkan permasalahan siswa untuk tetap fokus terhadap materi yang disampaikan. Kedudukan pembelajaran dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya mempertinggi interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang salah satunya berupa komputer, dimana alat ini dapat menunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan.

Pemanfaatan media komputer sebagai salah satu media pembelajaran diharapkan dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien. Pemanfaatan komputer dalam pembelajran juga menungkinkan terjadinya proses belajar yang berlangsung tanpa unsur paksaan sesuai dengan keinginan guru, tetati melibatkan minat dan bakat siswa.

Computer-Based Instruction (CBI) merupakan salah satu bentuk media pembelajaran interaktif dengan menggunakan komputer, materi pelajaran dalam CBI dikemas semenarik mungkin dengan memadukan beberapa unsure seperti ; penggunaan audio, video, animasi, teks, dan grafik. CBI memiliki beberapa model, yaitu model tutorial, model latihan dan praktek, model penemuan, model simulasi dan model permainan.Dalam model simulasi ini komputer lebih merupakan suatu sumber belajar dan bukan semata-mata suatu alat instruksional.Saat ini, pada mata pelajaran IPA lebih banyak menggunakan media gambar, model atau bahkan tanpa menggunakan media.

DAFTAR PUSTAKA

Akinoglu, O. & Tandagon, R. O. (2006). The Effects of Problem-Based Active Learning in Science Education on Students’ Academic Achievement, Attitude and Concept Learning. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2007, 3(1),71-81. Tersedia [On line] : http: www.ejmdte.com. [01 Mei 2007]

Amin, M. (1987). Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan “Inquiry” Bagian 1. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.

Anggraeni, Sri. (2006). Pengembangan Program Perkuliahan Biologi Umum Berbasis Inkuiri Bagi Calon Guru Biologi. Disertasi Program Studi Pendidikan IPA SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Baharuddin. (1982). Peranan kemampuan dasar intelektual sikap dan pemahaman dalam fisika terhadap kemampuan siswa di Sulawesi Selatan membangun model mental. Disertasi Doktor FPS IKIP Bandung, IKIP Bandung: Tidak Diterbitkan.

Cheng, K.K., et.al (2004). “Using Online Homework System Enhances Students Learning of Physics Concepts in an Introductory Physics Course”. American Journal of Physics. 72, (11), 1447-1453.

Dahar, Ratna Wilis, (1985), Kesiapan Guru Mengajar di Sekolah Dasar Ditinjau dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains (suatu studi iluminatif tentang proses belajar mengajar sains di kelas 4, 5, dan 6 sekolaah dasar, Disertasi FPS IKIP, Bandung.

_______________,  (1996), Teori – Teori Belajar, Jakarta, Erlangga.

Departemen Pendidikan Nasional. (2002a). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

_____________________________ . (2002b). Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

_____________________________ . (2004). Silabus Kurikulum 2004. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Menegah.

_____________________________ . (2006). Daftar Silabus Fisika KTSP 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hamalik, O. (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung Sinar Baru Algesindo.

__________.  (2004). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Ibrahim, M dan Nur, M. (2004). Pengajaran Berbasis Masalah. Surabaya: University Press.

Kardi, S. dan Nur, M. (2000). Pengajaran Langsung. Surabaya: UNESA University Press.

Komaruddin (2000)  Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara

Murphy, M.G. and Kaufman, D.M.(1990). Adapting Problem-Based Learning to Maximize Effectiveness in Teaching Basic Sciences in Health Profession Faculties. Tersedia http://www.ntlf.com/html/pi/9812/pbl 1. html

Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi Pertama. Jakarta: Bina Aksara.

Nur, M  & Wikandari, P. (2000). Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Pusat Studi MIPA Universitas Negeri Surabaya.

Ratnaningsih, N. (2003). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematika Siswa SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis Pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Ruseffendi, E. T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Rustaman, N dan Rustaman, A. (1997), Pokok-Pokok Pengajaran Biologi dan Kurikulum 1994, Jakarta: Pusbuk Depdikbud.

Sudjana, N. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

University of Southern California. (2001). Problem Based Learning. Tersedia:http://www.usc.edu/dept/education/scince edu/glosarryP.html#PBL.

University of  Washington: College of Education. (2001). Training for Indonesian Team Individu-Individu Contextual Teaching and Learning. Seatle

Wartono. (2003). Strategi Belajar Mengajar Fisika. Malang: Universitas Negeri Malang.

Wood, D.R. (1994), Problem Based – Learning : how to gain the most from PBL, Hamilton Canada,  McMaster University.

Woods, D.R. (1996). Problem-based Learning especially in the Context of Large Classes. http://www.chemeng.mcmaster.ca/pbl/pbl.htm

Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Pakar Raya

Desember 17, 2008 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: