Muhammadrudi’s Blog

Just another WordPress.com weblog

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIF LEARNING ) BERLANDASKAN TEORI KONSTRUKTIVISME SOSIOKULTURAL VYGOTSKY DALAM MATA PELAJARAN IPA

  1. A.     Pendahuluan

a. Latar Belakang

Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas.  Usaha ini dilakukan mulai jenjang pendidikan dasar dan menengah sampai pada jenjang pendidikan tinggi. Hal ini dilakukan untuk menghadapi era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat dewasa ini. IPA sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki fungsi yang sangat besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), karena mata pelajaran IPA dipandang sebagai kumpulan pengetahuan (a body of knowledge), cara berpikir (a way of thinking) dan sebagai cara penyelidikan (a way of investigating). Sebagai kumpulan pengetahuan, IPA membahas fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori.

Salah satu kunci utama dalam memajukan pendidikan adalah guru. Sudjana,N (2002:1) mengemukakan bahwa guru menempati kedudukan sentral, sebab peranannya sangat menentukan. Guru harus mampu menterjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, kemudian mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses pengajaran di sekolah. Menurut Hamalik, (2002: 32) bagaimanapun baiknya kurikulum, administrasi, dan fasilitas perlengkapan, kalau tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas guru-gurunya tidak akan membawa hasil pembelajaran yang diharapkan.

Banyak guru mengajar dengan cara yang kurang menarik, membosankan, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga proses belajar menjadi kaku, monoton, kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa terutama dalam hal pemecahan masalah. Hal ini akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, sebab pemecahan masalah menuntut siswa untuk terlibat dan aktif dalam mencari solusi dengan memberdayakan semua keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Pembelajaran yang inovatif yang relevan dengan keterlibatan dan peran aktif siswa dalam pembelajaran adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan keterkaitannya dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dari pembelajaran tersebut adalah pembelajaran yang menekankan agar siswa sendiri yang akan membangun pengetahuannya, sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran bagi siswa untuk meningkatkan pengetahuan awal yang dimilikinya. Ausubel (Dahar, 1996), menyatakan bahwa faktor yang paling penting dalam mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Disini siswa dituntut untuk dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Menurut Nur dan Wikandari (2000: 2), guru dapat membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi yang diberikan oleh guru menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menetapkan ide-ide mereka sendiri untuk belajar. Disini siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Selanjutnya Nur dan Wikandari (2002), mengatakan bahwa guru dapat memberi siswa “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat “tangga” tersebut

Jadi belajar  terjadi jika seseorang dapat mengasosiakan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya, dalam hal ini seseorang dapat mengembangkan atau mengubah skema yang ada dengan mengkonstruksi sendiri apa yang sedang dipelajari melalui proses asimilasi dan akomodasi. Di samping itu, dalam mengkonstruksi suatu konsep, siswa perlu memperhatikan lingkungan sosial yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi positif dalam mengkonstruksikan konsep-konsep mata pelajaran IPA. Hal ini akan dilakukan dengan belajar secara kelompok yang menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar berpikir, memecahkan masalah dan belajar untuk mengaplikasi kan pengetahuan dan keterampilan, serta saling memberikan pengetahuan, konsep, keterampilan tersebut kepada siswa yang membutuhkan dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada anggota lain dalam kelompoknya. Arends (Saragih, 2005) mengemukakan bahwa belajar kelompok dapat saling menguntungkan antar siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi yang bekerja bersama-sama dalam tugas akademik, siswa yang berkemampuan lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan lebih rendah.

Menurut Vygotsky (Suharta, 2004: 43 ), konstruksi yang memperhatikan  lingkungan sosial ini disebut dengan konstruktivisme sosial, hal ini didasari dari pandangan yang menyatakan pengetahuan dapat dibentuk baik secara individual maupun sosial, sehingga kelompok belajar dapat dikembangkan. Menurut Von Glasersfeld (Suparno, 1997: 23), dalam kelompok belajar siswa harus mengungkapkan bagaimana ia melihat persoalan dan apa yang akan dibuatnya dengan persoalan itu, ini  berarti siswa telah melakukan refleksi tentang apa yang dipikirkan dan dilakukan.

Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Suharta, 2004: 48) yaitu Zone of Proximal Development dan ScaffoldingZone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama degan teman sejawat yang lebih memiliki kemampuan.

Sedangkan Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah kedalam langkah-langkah pemecahan masalah, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkingkan siswa itu belajar mandiri. Oleh karena itu dengan mempertimbangkan hal-hal di atas dalam tulisan ini penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif ( cooperatif learning ) berlandaskan teori konstruktivisme sosiokultural Vygotsky  dalam mata pelajaran IPA

b. Masalah

Berdasarkan latar belakang rumusan masalah dalam tulisan ini adalah:

  1. Bagimanakan penerapan pembelajaran kooperatif ( cooperatif learning ) berlandaskan teori konstruktivisme sosiokultural Vygotsky  dalam mata pelajaran IPA ?

c. Tujuan

Tujuan dalam tulisan ini adalah :

  1. Untuk mengetahui bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif  (cooperatif learning) berlandaskan teori konstruktivisme sosiokultural Vygotsky  dalam mata pelajaran IPA.

 

 

d. Manfaat

  1. Guru, untuk  menambah wawasan  dan pengetahuan guru dalam memahami dan menerapkan pembelajaran kooperatif ( cooperatif learning ) berlandaskan teori konstruktivisme dalam mata pelajaran IPA
  2. Instansi terkait seperti LPMP, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Dinas Pendidikan kabupaten/Kota dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan peningkatan mutu guru terutama dalam penerapan metode pembelajaran sehingga perubahan perilaku guru ke arah yang lebih produktif, efektif dan efisien dalam proses pembelajaran akan terwujud.
  3. B.     Tinjauan Teori
  4. 1.      Teori Belajar Konstrktivisme

Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan didalam benak merekan sendiri. Setiap pengetahuan atau kemampuan hanya bisa diperoleh atau dikuasai oleh sesorang apabila orang itu secara aktif mengkonstruksi pengetahuan atau kemampuan itu di dalam pikirannya. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner ( Slavin dalam Trianto,2007:13).

Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Menurut Nur dalam Trianto  (2007:13) guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.

Ide-ide konstruktivisme modern banyak berlandaskan teori sosiokultural Vygotsky   (Nur,2004:4) sehingga menjadi konsep mendasar dalam konstruktivisme, seperti ; scaffolding, proses top down, zone of proximal development ( ZPD ).

 

  1. Scaffolding

Scaffolding dapat diartikan bahwa sebagai pemberian sejumlah bantuan kepada seorang siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia melakukannya. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan untuk memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

  1. Proses Top Down

Pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran lebih menekankan proses pengajaran secara top-down dari bottom-up.Top-down berarti bahwa siswa mulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan dan kemudian siswa memecahkan atau menemukan ( dengan bimbingan guru ) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan.

  1. Zone of Proximal Development ( ZPD )

Zone of proximal development  dimaknai sebagai “ jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya ( yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri ), dengan tingkat perkembangan potensial ( yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerja sama dengan teman sejawat yang lebih mampu ). Siswa yang bekerja dalam Zone of proximal development   berarti siswa tersebut tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya, dan dapat terselesaikan jika mendapat bantuan dari teman sebaya atau orang dewasa.

Teori Vygotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada daerah perkembangan terdekat Zone of proximal development   siswa. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit di atas perkembangan seseorang saat ini. Tingkat perkembangan seseorang saat ini tidak lain adalah tingkat pengetahuan awal atau pengetahuan prasyarat itu telah dikuasai, maka memungkinkan sekali akan terjadi pembelajaran bermakna. Tetapi apabila pengetahuan pembelajaran hafalan yang membosankan dan tidak menumbuhkan motivasi siswa, apabila proses belajar mengajar ini terus menerus berlangsung dari tahun ke tahun maka kemungkinan besar banyak siswa yang tidak menyukai mata pelajaran IPA. Pembelajaran bermakna ini sama dengan salah satu indikator kualitas CTL. Teori Vygotsky dalam Khodijah ( 2006:76 ) memiliki empat implikasi pendidikan yang utama, yaitu :

1)      Guru harus bertindak sebagai scaffold yang memberikan bimbingan yang cukup untuk membantu anak-anak mencapai kemajuan. 

2)      Pembelajaran harus selalu berupaya ”mempercepat” level penguasaan terkini anak. 

3)      Untuk menginternalisasi keterampilan pada anak-anak, pembelajaran harus berkembang dalam empat fase. Pada fase pertama, guru harus menjadi model dan memberikan komentar verbal mengenai apa yang mereka lakukan dan alasannya. Pada fase kedua, siswa harus berupaya mengimitasi apa yang dilakukan guru. Pada fase ketiga, guru harus intervensinya secara progresif  begitu siswa telah menguasai keterampilan tersebut. Keempat, guru dan siswa secara berulang-ulang mengambil peran secara bergiliran. 

4)      Anak-anak perlu berulang-ulang dihadapkan dengan konsep-konsep ilmiah agar konsep spontan mereka menjadi lebih akurat dan umum. 

Pandangan  teori konstruktivisme dalam Sagala ( 2008:88) bahwa  strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan : (1 ) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; ( 2 ) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan ( 3 ) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

  1. 2.            Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning )

Menurut Dahlan (1990) model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas. Sedangkan pembelajaran menurut Muhammad Surya (2003) merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Untuk memilih model yang tepat, maka perlu diperhatikan relevansinya dengan pencapaian tujuan pengajaran. Dalam prakteknya semua model pembelajaran bisa dikatakan baik jika memenuhi prinsip‑prinsip sebagai berikut; Pertama, semakin kecil upaya yang dilakukan guru dan semakin besar aktivitas belajar siswa maka hal itu semakin baik; kedua, semakin sedikit waktu yang diperlukan oleh guru untuk mengaktifkan siswa belajar juga semakin baik; ketiga, sesuai dengan cara belajar siswa yang dilakukan;  keempat, dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru; kelima, tidak ada satupun metode yang paling sesuai untuk segala tujuan, jenis materi, dan proses belajar yang ada (Hasan S, 1996: 67).

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa  belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kamampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembelajaran kooperatif.

Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan-hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam.

Keterampilan-keterampilan kooperatif menurut Lundgren dalam materi pelatihan terintegrasi mata pelajaran IPA ( Depdiknas,2005:11) tersebut antara lain :

1)      Keterampilan kooperatif tingkat awal

  1. Menggunakan kesepakatan
  2. Menghargai kontribusi
  3. Mengambil giliran dan berbagi tugas
  4. Berada dalam kelompok
  5. Berada dalam tugas
  6. Mendorong partisipasi
  7. Mengundang orang lain untuk berbicara
  8. Menyelesaikan tugas pada waktunya
  9. Menghormati perbedaan individu

2)      Keterampilan kooperatif tingkat menengah, meliputi :

  1. Menunjukkan penghargaan dan simpati
  2. Mengngkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
  3. Mendengarkan dengan aktif
  4. Bertanya
  5. Membuat ringkasan
  6. Menafsirkan
  7. Mengatur dan mengorganisir
  8. Menerima tanggung jawab
  9. Mengurangi  ketegangan

3)      Keterampilan kooperatif tingkat mahir,meliputi :

  1. Mengaborasi
  2. Memeriksa dengan cermat
  3. Menanyakan kebenaran
  4. Menetapkan tujuan
  5. Berkompromi

Terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam Trianto ( 2007:48) di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-lankah itu ditunjukkan pada tabel 1

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1

Langkah-langkah model pembelajan kooperatif

Fase

Tingkah Laku Guru / Peran Guru

Fase-1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa  Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase-2Menyajikan informasi  Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif  Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

 

Fase-4Membimbing kelompok bekerja dan belajar  Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase-5Evaluasi  Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

 

 Fase-6

Memberikan

penghargaan

 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

 

 

 

 

 

Dari pembahasan di atas maka ruang lingkup pembelajaran kooperatif dapat digambarkan dari diagram alur pada gambar 1

 

PEMBELAJARAN KOOPERATIF (CL) 

CTL

Hasil belajarAkademik
Landasan Teoritik
Teori BelajarKonstruktivis
HakekatSosiokultural
Sintaks
Hasil BelajarSiswa

Keterampilan

Kooperatif

Lihat tabel 1

Enam faseutama
Berpusat pada siswa
Proses demokrasi danPeran aktif siswa
Lingkungan belajar danSistem Pengelolaan
Konsep – konsepsulit
Siswa bel dlm klp. KecilDg tkt mampu beda

Learning

Community

 

KeterampilanSosial

 

Vygotsky

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 : Ruang lingkup pembelajaran kooperatif

 

 

 

 

  1. C.     Pembahasan

 

  1. 1.      Penerapan pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) berlandaskan teori sosiokultural Vygotsky pada mata pelajaran IPA
  2. Knowledge ( Pengetahuan ) 

Guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered dan siswa beinteraksi dalam menyelesaiakan tugas-tugas dan dapat saling memunculkan strategi pemecahan masalah yang efektif didalam masing-masing Zone of proximal development.

  1. Learning ( Pembelajaran )

Dalam pandangan teori konstruktivisme pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentranformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu,  pembelajaran harus dikemas menjadi proses ”mengkonstruksi ” bukan ” menerima ” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.Dalam proses belajar mengajar siswa berkelompok,  belajar kelompok dapat saling menguntungkan antar siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi yang bekerja bersama-sama dalam tugas akademik, siswa yang berkemampuan lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan lebih rendah.

  1. 3.      Teaching ( Pengajaran )

Pengajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Disini guru hanya memfasilitasi agar proses mengkontruksi pengetahuan dapat berjalan dengan lancar. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman yang sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak ( struktur pengtahuan ) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomadasi.

  1. 4.      Role of teacher ( Peran Guru )

Peran guru dalam pembelajaran bersifat Scaffolding dapat diartikan bahwa sebagai pemberian sejumlah bantuan kepada seorang siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia melakukannya. Tingkah laku guru atau peran guru  dalam pembelajaran terlihat pada table 2 , sintaks model pembelajaran kooperatif.

Tabel 2 : Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

Fase

Tingkah Laku Guru / Peran Guru

Fase-1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa  Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase-2Menyajikan informasi  Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif  Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

 

Fase

Tingkah Laku Guru / Peran Guru

Fase-4Membimbing kelompok bekerja dan belajar  Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase-5Evaluasi  Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase-6Memberikan

penghargaan

 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

 

  1. 5.      Role off peers ( Peran Teman )

Dalam teorinya, Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajaran menghendaki setting kelas kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa  belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kamampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan-hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

  1. 6.      Role of student ( Peran Siswa )

Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan didalam benak merekan sendiri. Setiap pengetahuan atau kemampuan hanya bisa diperoleh atau dikuasai oleh sesorang apabila orang itu secara aktif mengkonstruksi pengetahuan atau kemampuan itu di dalam pikirannya, guru hanya memfasilitisai proses belajar mengajar.

b. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) pembelajaran yang berorientasi cooperative learning

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

 

 

Mata Pelajaran : IPA – FISIKA
Kelas / Semester : VIII / 2
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit
Standar Kompetensi : Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk teknologi sehari – hari
Kompetensi Dasar : Menyelidiki sifat – sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa
Indikator :
  • Menggambarkan jalannya cahaya pada dua zat yang berbeda
  • Menyebutkan bunyi hukum pembiasan cahaya
  • Menjelaskan peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari – hari

 

A Tujuan Pembelajaran
     
  a Setelah melalui percobaan siswa dapat menggambarkan jalannya cahaya pada dua zat yang berbeda dengan benar
  b Setelah melalui diskusi kelompok dan tanya jawab siswa dapat menyebutkan 2 bunyi hukum pembiasan cahaya dengan benar
  c Setelah melalui diskusi kelompok dan tanya jawab siswa dapat menjelaskan peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari – hari dengan benar
     
B Materi Pembelajaran
 

a

Jalannya cahaya pada dua zat yang berbeda
 

b

Hukum pembiasan cahaya
 

c

Peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari
     
C Metode Pembelajaran
  a Model         : –  Cooperatif Learning ( CL )
  b Metode       :  –  Eksprimen
    –  Diskusi Kelompok-  Tanya Jawab

 

D Langkah – Langkah Pembelajaran
  a Kegiatan Awal ( ± 10 menit )
   
  • Menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran
  • Pada papan tulis dituliskan kata-kata pembiasan cahaya
  • Motivasi dan Apersepsi
  1. Motivasi

Memberikan informasi kepada peserta didik dengan mengamati apakah yang terjadi jika memasukkan pensil kedalam gelas berisi air ? mengapa  demikian ? dan meminta kepada salah seorang peserta didik untuk bergerak menjauhi baskom yang berisi uang logam didalamnya  dan berhenti pada jarak uang logam tersebut tidak kelihatan, kemudian kedalam baskom tersebut diisi air. Amati apa yang terjadi ? mengapa demikian ?

    2.   Apersepsi      Memberikan informasi kepada anak hukum pemantulan cahaya dan sifat cahaya yang merambat lurus
       
  b Kegiatan Inti ( ± 50 menit )

  • Memberikan informasi kepada peserta didik bahwa cahaya merambat menurut garis lurus apabila melalui satu medium saja. Bagaimana cahaya merambat melewati dua medium yang berbeda ?
  • Mendemontrasikan langkah-langkah kegiatan didalam LKS
  • Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok-kelompok
  • Membagikan LKS kepada tiap siswa dan tiap-tiap kelompok diberi seperangkat alat dan bahan untuk melakukan kegiatan seperti petunjuk didalam LKS
  • Guru membimbing peserta didik untuk melakukan percobaan seperti petunjuk didalam LKS
  • Meminta satu atau dua kelompok untuk melaporkan hasil percobaan dan kesimpulan dari percobaan yang dilakukan, kelompok lain diminta menangapinya.
  • Diskusi kelompok dan tanya jawab tentang hukum pembiasan cahaya dan peristiwa – peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari
       
  c Penutup ( ±20  menit )

  • Memberi penghargaan pada siswa atau kelompok yang kinerjanya bagus
  • Membimbing siswa membuat rangkuman pelajaran dengan mempresentasikan lagi kesimpulan yang benar dari LKS
  • Mengevaluasi siswa dengan memberi pertanyaan – pertanyaan secara tertulis.
       
E Alat / Sumber Bahan
  a Kaca plan paralel
  b Jarum pentul
  c Papan gabus
  d Folio tak bergaris
  e Mistar dan busur
  f Pensil
  g Komputer dan LCD
  h Buku IPA kelas VIII jilid 2 karangan Djoko Arisworo, Yusa, Nana Sutresna penerbit Erlangga, buku Sain Fisika SMP untuk kelas VIII karangan Mikrajudin Abdullah penerbit Esis
F Penilaian
  a Teknik Penilaian
   
  •  Tes Tertulis
  •  Tes Unjuk Kerja
  b Bentuk Instrumen
   
  •  Tes Isian
  •  Tes Uji Petik Kerja Prosedur
  c Instrumen
   
  •  Instrumen Tes Isian
    1 Gambarkan jalannya cahaya yang merambat dari udara dengan sudut datang a menuju kaca dengan sudut bias b !
    2 Seorang siswa menyelam dikolam renang, ia melihat seekor burung terbang sejauh h meter diatas permukaan air. Apakah posisi burung yang dilihat orang tersebut lebih dari, sama atau kecil dari h meter ? Jelaskan secara singkat alasanmu.
    3 Sebutkan 2 bunyi hukum pembiasan cahaya ?
       
   
  •  Rubrik Tes Uji Petik Kerja Prosedur

 

No

Aspek

Skor

1

2

 

3

 

4

Menyusun alat dengan benarMelakukan kegiatan dengan prosedur yang benar

Memperoleh hasil pengamatan dengan benar

Membuat kesimpulan dengan benar

5

10

 

10

 

5

Indralaya,        Maret 2009Guru Mata Pelajaran

 

 

 

Muhammad Rudi,S.Pd

NIP.132196693

 

 

 

 

 

 

 

c. Penutup

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar  belajar konstruktivisme, hal ini terlihat pada salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan hakekat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut. Impilikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.

Disamping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa dan juga model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.

Juli 14, 2009 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

KURIKULUM SMA NEGERI 1 PALEMBANG MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFOMASI DAN KOMUNIKASI

 SMA Negeri 1 Palembang terletak di Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang dengan jumlah rombongan belajar 29 ruang  terdiri dari kelas X 9  kelas, kelas XI terdiri dari 7 kelas IPA dan 3 kelas IPS serta kelas XII terdiri dari 7 kelas IPA dan 3 Kelas IPS.

Ruang komputer SMA Negeri 1 Palembang terdiri dari 2 ruangan dengan masing-masing ruangan terdiri dari 46 komputer dengan sfesifikasi Pentium 4 keatas atau Duacore-2 dengan menggunakan hotspot dari Speedy 2 titik.

Guru TIK SMA Negeri 1 Palembang terdiri dari 4 orang guru dengan rincian 2 orang guru S.1 Komputer, 1 orang guru S.1 Ekonomi dan 1 Orang guru D III Komputer.

Metode pembelajaran di SMA Negeri 1 Palembang dengan menggunakan pembelajaran langsung / demonstrasi 80 % dan teori 20 %.Kurikulum menggunakan KTSP dari BNSP dan dikembangkan oleh guru dengan materi sesuai Standar kompetensi  atau Kompetensi Dasar . Materi kelas X menurut guru SMA Negeri 1 Palembang masih banyak menggunakan materi SMP, materi kelas XI dan XII sesuai dengan perkembangan zaman tetap sebagian guru masih perlu mengembangkannya. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) di SMA Negeri 1 Palembang adalah :

 

Kelas X,  Semester 1

 

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Melakukan operasi dasar komputer 1.1  Mengaktifkan dan mematikan komputer sesuai dengan prosedur

1.2  Menggunakan perangkat lunak beberapa program aplikasi

 

2.   Memahami fungsi dan proses kerja  berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi

 

 

 

2.1  Mendeskripsikan fungsi, proses kerja komputer, dan telekomunikasi, serta berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi

2.2  Menjelaskan fungsi, dan cara kerja jaringan telekomunikasi (wireline, wireless, modem dan satelit)

2.3  Mendemonstrasikan fungsi dan cara kerja perangkat lunak aplikasi teknologi informasi dan komunikasi

 

3.   Memahami ketentuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi

 

 

 

3.1 Menerapkan aturan yang berkaitan dengan etika dan moral terhadap perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi dan komunikasi

3.2 Menerapkan prinsip-prinsip Kesehatan dan  Keselamatan Kerja (K3) dalam menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak teknologi Informasi dan komunikasi

3.3 Menghargai pentingnya Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dalam teknologi informasi dan komunikasi

 

 

 

 

Juni 3, 2009 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Peran Manajer di Lembaga Pendidikan

Seiring dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan salah satu penentu mutu Sumber Daya Manusia. Keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM). Mutu Sember Daya Manusia (SDM) berkorelasi positif dengan mutu pendidikan, mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam pendidikan, komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana serta biaya. Oleh Karena itu pembenahan manajemen pendidikan sangatlah diperlukan.

Perlunya manajemen dalam pendidikan adalah untuk mengantisipasi perubahan global yang disertai oleh kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi informasi. Perubahan itu sendiri sangat cepat dan pesat, sehingga perlu ada perbaikan yang berkelanjutan (continous improvement) di bidang pendidikan sehingga output pendidikan dapat bersaing dalam era globalisasi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi. Persaingan tersebut hanya mungkin dimenangkan oleh lembaga pendidikan yang tetap memperhatikan kualitas pendidikan dalam pengelolaannya. Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep, dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Pendidikan yang bermutu sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang professional. Tenaga kependidkan mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan pengetahuan, ketrampilan, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu tenaga kependidikan yang profesional akan melaksanakan tugasnya secara profesional pula sehingga menghasilkan tamatan yang lebih bermutu. Menjadi tenaga kependidikan yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya. Pengembangan profesionalisme ini membutuhkan dukungan dari pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah seorang penyelenggara pendidikan. Seorang penyelenggara pendidikan haruslah benar-benar bertindak sebagai manajer di sekolahnya masing-masing, agar lembaga pendidikan itu mampu melaksanakan misinya sebagaimana mestinya (Pidarta, 2000).

Seorang penyelenggara pendidikan di sebuah lembaga pendidikan menurut Made Pidarta (2000) mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:

  1. Menjadi manajer lembaga pendidikan tersebut dengan tugas-tugas sebagai berikut:
    1. mengadakan prediksi tentang kemungkinan perubahan lingkungan seperti perubahan ilmu dan teknologi, tuntutan hidup, aspirasi masyarakat, dan sebagainya.
    2. Merencanakan dan melakukan inovasi dalam pendidikan.
    3. Menciptakan strategi dan kebijakan lembaga agar proses pendidikan tidak mengalami hambatan.
    4. Mengadakan perencanaan dan menenukan sumber-sumber pendidikan.
    5. Menyediakan dan mengkoordinasi fasilitas pendidikan.
    6. Melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan agar tidak terlanjur membuat kesalahan.
  2. Menjadi pemimpin lembaga pendidikan:
    1. Memimpin semua bawahan.
    2. Memotivasi agar bekerja dengan rajin dan giat.
    3. Meningkatkan kesejahteraan bawahan.
    4. Mendisplikan para pendidik dan pegawai dalam melkasnakan tugasnya.
  3. Sebagai supervisor atau pengawas:
    1. Mengawasi dan menilai cara kerja dan hasil kerja pendidik dan pegawai.
    2. Memberi supervisi dalam meningkatkan cara kerja.
    3. Mencari dan memberi peluang untuk meningkatkan profesi para pendidik.
    4. Mengadakan rapat-rapat untuk memperbaiki pendidikan dan pengajaran.
  4. Sebagai pencipta iklim bekerja dan belajar yang kondusif dengan tugas-tugas:
    1. menempatkan personalia secara benar sesuai dengan keahlian dan keterampilannya.
    2. Membina hubungan personalia yang positif
    3. Meningkatkan dan memperlancar komunikasi.
    4. Menyelesaikan konflik.
    5. Meningkatkan dan memelihara persatuan dan kesatuan personalia.
  5. Sebagai pencipta lingkungan bekerja dan belajar yang kondusif, dengan tugas-tugas:
    1. Menghimpun dan memanfaatkan informasi tentang sumber belajar.
    2. Memperkaya alat-alat belajar, alat-a;at peraga, dan media pendidikan.
    3. Memperkaya lingkungan hidup.
    4. Mengharmoniskan lingkungan lembaga dan ruangan kelas.
  6. Menjadi administrator lembaga pendidikan dengan tugas menyelenggarakan kegiatan rutin yang dioperasikan oleh para personalia lembaga:
    1. Mengendalikan struktur organisasi
    2. Melaksanakan administrasi substantive
    3. Melakukan pengawasan terhadap efektivitas dan efisiensi kerja
  7. Menjadi koordinator kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat:
    1. Berinisiatif membentuk suatu badan kerjasama.
    2. Mengadakan survey untuk menampung aspirasi masyarakat.
    3. Menghimpun dukungan masyarakat.
    4. Melaksanakan kerjasama dengan masayarakat.

Seorang manajer di sebuah lembaga pendidikan adalah seorang pimpinan penyelenggara pendidikan di lembaga pendidikan tersebut. Dalam suatu sekolah, manajer di lembaga tersebut adalah seorang kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pememliharaan sarana dan prasarana”. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan keprofesionalan kepala sekolah ini pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena sesuai dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia pimpin sehingga kompetensi guru tidak hanya mandeg pada kompetensi yang ia miliki sebelumnya, melainkan bertambah dan berkembang dengan baik sehingga profesionalisme guru akan terwujud.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, selain harus tahu dan paham tugasnya sebagai pemimpin, yang tak kalah penting dari itu semua seyogyanya kepala sekolah memahami dan mengatahui perannya. Adapun peran-peran kepala sekolah yang menjalankan peranannya sebagai manajer seperti yang diungkapkan oleh Wahjosumidjo (2002) adalah: (a)Peranan hubungan antar perseorangan; (b) Peranan informasional; (c) Sebagai pengambil keputusan.

Dari tiga peranan kepala sekolah sebagai manajer tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Peranan hubungan antar perseorangan

  • Figurehead, figurehead berarti lambang dengan pengertian sebagai kepala sekolah sebagai lambang sekolah.
  • Kepemimpinan (Leadership). Kepala sekolah adalah pemimpin untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah sehingga dapat melahirkan etos kerja dan peoduktivitas yang tinggi untuk mencapai tujuan.
  • Penghubung (liasion). Kepala sekolah menjadi penghubung antara kepentingan kepala sekolah dengan kepentingan lingkungan di luar sekolah. Sedangkan secara internal kepala sekolah menjadi perantara antara guru, staf dan siswa.

b. Peranan informasional

  • Sebagai monitor. Kepala sekolah selalu mengadakan pengamatan terhadap lingkungan karena kemungkinan adanya informasi-informasi yang berpengaruh terhadap sekolah.
  • Sebagai disseminator. Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menyebarluaskan dan memabagi-bagi informasi kepada para guru, staf, dan orang tua murid.
  • Sebagai spokesman. Kepala sekolah menyabarkan informasi kepada lingkungan di luar yang dianggap perlu.

c. Sebagai pengambil keputusan

  • Enterpreneur. Kepala sekolah selalu berusaha memperbaiki penampilan sekolah melalui berbagai macam pemikiran program-program yang baru serta malakukan survey untuk mempelajari berbagai persoalan yang timbul di lingkungan sekolah.
  • Orang yang memperhatikan ganguan (Disturbance handler). Kepala sekolah harus mampu mengantisipasi gangguan yang timbul dengan memperhatikan situasi dan ketepatan keputusan yang diambil.
  • Orang yang menyediakan segala sumber (A Resource Allocater). Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menentukan dan meneliti siapa yang akan memperoleh atau menerima sumber-sumber yang disediakan dan dibagikan.
  • A negotiator roles. Kepala sekolah harus mampu untuk mengadakan pembicaraan dan musyawarah dengan pihak luar dalam memnuhi kebutuhan sekolah.

Upaya peningkatan profesionalisme kepala sekolah selaku manajer merupakan proses keseluruhan dan organisasi sekolah serta harus dilakukan secara berkesinambungan karena peubahan yang terjadi selalu dinamis serta tidak bisa diprediksi sehingga kepala sekolah maupun tenaga kependidikan harus selalu siap dihadapkan pada kondisi perubahan. Ada istilah seorang tenaga pendidik yang tadinya professional belum tentu akan terus professional bergitupun sebaliknya, tenaga kependidikan yang tadinya tidak professional belum tentu akan selamanya tidak professional. Dari pernyataan itu jelas kalau perubahan akan selalu terjadi dan menuntut adanya penyesuaian sehingga kita dapat mengatasi perubahan tersebut dengan penuh persiapan. Upaya peningkatan keprofesionalan kepala sekolah tidak akan terwujud begitu tanpa adanya motivasi dan adanya kesadaran dalam diri kepala sekolah tersebut serta semangat mengabdi yang akan melahirkan visi kelembagaan maupun kemampuan konsepsional yang jelas. Dan ini merupakan faktor yang paling penting sebab tanpa adanya kesadaran dan motivasi semangat mengabdi inilah semua usaha yang dilakukan untuk meningkatkan keprofesionalannya hasilnya tidak akan maksimal dan perealisasiannyapun tidak akan optimal.

REFERENSI

Damayanti, Sri. 2008. Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah. Online Pada: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/diskusi-dan-opini-anda/. Diakses Tanaggal 19 Agustus 2008.

E. Mulyasa. 2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Pidarta, Made. 2000. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Januari 3, 2009 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Peran Guru dalam Pembelajaran Fisika

Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas. Usaha ini dilakukan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Hal ini dilakukan untuk menghadapi kemaujuan ilmu dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat dewasa ini. Fisika sebagai salah saru mata pelajaran di sekolah mempunyai peran yang sangat besar dalam memajukan IPTEK, karena fisika sebagai bagian dari IPA dipandang sebagai sekumpulan pengetahuan (a body of knowledge), cara berpikir (a way of knowledge), dan sebagai cara penyelidikan (a way of investigating). sebgai kumpulan pengetahuan, fisika membahas fakta, konsep, prinsip hukum, dan teori.

Seiring dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, isu mengenai merosotnya kualitas pendidikan tetap menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan. Pengajaran fisika sering dianggap kurang berhasil juka ditinjau dari hasil belajar siswa. hal ini dilihat dari kenyataan bahwa nilai ujian fisika selalu lebih rendah dari pada niali ujian mata pelajaran yang lain.

Salah satu kunci sukses dalam memajukan pendidikan adalah guru. Sudjana, N.(2002:1) mengemukakan bahwa guru mempunyai posisi sentral. guru harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum, kemudian menerjemahkan nilai-nilai tersebut kepada siswa melalui proses belajar mengajar di sekolah. Bagaimanapun baiknya kurikulum jika tidak diimbangi dengan peningktan kualitas guru-gurunya, tidak akan membawa hasil yang diharapkan (Hamalik, 2002:32).

Banyak guru mengajar dengan cara yang kurang menarik, membosankan, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan. Kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga proses belajar menjadi kaku, monoton, kurang mendukung pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa terutama dalam hal pemecahan masalah. Hal ini akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, sebab pemecahan masalah menuntut siswa untuk terlibat dan aktif dalam mencari solusi dengan memberdayakan semua keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Pembelajaran yang inovatif yang relevan dengan keterlibatan dan peran aktif siswa dalam pembelajaran adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan keterkaitannya dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dari pembelajaran tersebut adalah pembelajaran yang menekankan agar siswa sendiri yang akan membangun pengetahuannya, sedangkan guru harus merancang kegiatan pembelajaran bagi siswa untuk meningkatkan pengetahuan awal yang dimilikinya. Ausubel (Dahar, 1996), menyatakan bahwa faktor yang paling penting dalam mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Disini siswa dituntut untuk dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Menurut Nur dan Wikandari (2000: 2), guru dapat membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi yang diberikan oleh guru menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menetapkan ide-ide mereka sendiri untuk belajar. Disini siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran. Selanjutnya Nur dan Wikandari (2002), mengatakan bahwa guru dapat memberi siswa “tangga” yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat “tangga” tersebut.

Kurikulum 2004 disebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi.  Kurikulum ini bertujuan menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan, sekaligus mengintegrasikan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup ini perlu dimiliki seseorang untuk berani menghadapi masalah hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, serta mendorong seseorang untuk proaktif dan kreatif menemukan solusi setiap permasalahan yang terjadi (Depdiknas, 2004). Salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki itu adalah kecakapan sosial yang meliputi kecakapan komunikasi lisan, komunikasi tertulis, dan kecakapan bekerjasama. Kecakapan sosial merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Berdasarkan hasil  penelitian Goleman (dalam Tilaar, 2004) menunjukkan bahwa kehidupan manusia sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh emosinya. Emosi seseorang yang tidak matang akan menyulitkannya berkomunikasi, bekerjasama dan mencapai konsensus, serta kurang toleransi.

Pentingnya kecakapan sosial sangat dirasakan pada zaman globalisasi sekarang ini. Anggota masyarakat sebagai individu, kelompok bahkan negara saling menjalin kerjasama dalam mempertahankan eksistensinya. Untuk itu diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik, saling bantu-membantu dan tolong-menolong antara kelompok-kelompok. Berbagai alat komunikasi diciptakan manusia untuk mempermudah interaksi komunikasi tersebut.

Model pembelajaran kooperatif menjadi alternatif model pembelajaran  yang dapat diterapkan. Model kooperatif ini lebih menekankan pada interaksi dan komunikasi dalam pembelajaran serta menekankan pada proses pembentukan pengetahuan secara aktif oleh siswa. Schroeder dan koleganya (dalam Mel Silberman, 2002) memberikan indikator tipe Myers-Brigg (MBTI) yang berguna untuk memantau peran individu yang berbeda-beda dalam proses belajar. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 60% siswa mempunyai orientasi belajar praktis bukan teoritis, dan persentasenya meningkat dari tahun ke tahun. Peserta didik lebih suka terlibat langsung, pengalaman kongkret daripada konsep dasar lebih dahulu dan menerapkannya kemudian. Pada penelitian lainya, Schroeder (dalam Mel Silberman, 2002) menunjukan bahwa mayoritas para peserta didik sekolah lanjutan atas lebih menyukai belajar melalui aktivitas dengan perbandingan 5:1.

Dalam perkembangan belajarnya, sejak tahap pendidikan dasar siswa sudah mempunyai konsepsi awal tentang pembelajaran. Tidak layak siswa dianggap mempunyai dasar pengetahuan yang kosong sehingga dapat diisi dengan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak mesti berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru (Anita Lie, 2004).

Beragam potensi dan aspek pengetahuan siswa dalam kelas dapat dikembangkan guru dengan cara menawarkan model, pendekatan dan tipe pembelajaran yang berbeda-beda. Keragaman model dengan pendekatan yang bervariasi dapat menjangkau lebih banyak sisi kebutuhan siswa (M. Dahlan, 1990). Dengan demikian dalam mencapai penguasaan konsep-konsep fisika dapat juga dikembangkan aspek sosial siswa dengan cara memilih pendekatan dan tipe pembelajaran yang cocok.

Diantara banyak model pembelajaran kooperatif, model yang diaplikasikan dengan kelompok kecil memberikan peluang yang besar pada anggota kelompoknya untuk berekspresi mendemonstrasikan pengetahuannya. Kelompok belajar secara berpasangan adalah salah satu bentuk kelompok kecil yang dapat dipakai untuk meningkatkan peranan siswa dalam pembelajaran. Kelompok belajar yang besar sering didominasi oleh siswa yang pintar sehingga siswa yang berkemampuan sedang dan rendah kurang mendapat kesempatan dalam pembelajaran.

Proses belajar mengajar kadang kala membosankan apabila materi yang disampaikan kurang menarik, terutama pada beberapa mata pelajaran yang membutuhkan visualisasi untuk memahaminya. Melihat hal itu, maka diperlukan media pembelajaran yang dapat memecahkan permasalahan siswa untuk tetap fokus terhadap materi yang disampaikan. Kedudukan pembelajaran dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya mempertinggi interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang salah satunya berupa komputer, dimana alat ini dapat menunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan.

Pemanfaatan media komputer sebagai salah satu media pembelajaran diharapkan dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien. Pemanfaatan komputer dalam pembelajran juga menungkinkan terjadinya proses belajar yang berlangsung tanpa unsur paksaan sesuai dengan keinginan guru, tetati melibatkan minat dan bakat siswa.

Computer-Based Instruction (CBI) merupakan salah satu bentuk media pembelajaran interaktif dengan menggunakan komputer, materi pelajaran dalam CBI dikemas semenarik mungkin dengan memadukan beberapa unsure seperti ; penggunaan audio, video, animasi, teks, dan grafik. CBI memiliki beberapa model, yaitu model tutorial, model latihan dan praktek, model penemuan, model simulasi dan model permainan.Dalam model simulasi ini komputer lebih merupakan suatu sumber belajar dan bukan semata-mata suatu alat instruksional.Saat ini, pada mata pelajaran IPA lebih banyak menggunakan media gambar, model atau bahkan tanpa menggunakan media.

DAFTAR PUSTAKA

Akinoglu, O. & Tandagon, R. O. (2006). The Effects of Problem-Based Active Learning in Science Education on Students’ Academic Achievement, Attitude and Concept Learning. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2007, 3(1),71-81. Tersedia [On line] : http: www.ejmdte.com. [01 Mei 2007]

Amin, M. (1987). Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan “Inquiry” Bagian 1. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.

Anggraeni, Sri. (2006). Pengembangan Program Perkuliahan Biologi Umum Berbasis Inkuiri Bagi Calon Guru Biologi. Disertasi Program Studi Pendidikan IPA SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Baharuddin. (1982). Peranan kemampuan dasar intelektual sikap dan pemahaman dalam fisika terhadap kemampuan siswa di Sulawesi Selatan membangun model mental. Disertasi Doktor FPS IKIP Bandung, IKIP Bandung: Tidak Diterbitkan.

Cheng, K.K., et.al (2004). “Using Online Homework System Enhances Students Learning of Physics Concepts in an Introductory Physics Course”. American Journal of Physics. 72, (11), 1447-1453.

Dahar, Ratna Wilis, (1985), Kesiapan Guru Mengajar di Sekolah Dasar Ditinjau dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains (suatu studi iluminatif tentang proses belajar mengajar sains di kelas 4, 5, dan 6 sekolaah dasar, Disertasi FPS IKIP, Bandung.

_______________,  (1996), Teori – Teori Belajar, Jakarta, Erlangga.

Departemen Pendidikan Nasional. (2002a). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

_____________________________ . (2002b). Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

_____________________________ . (2004). Silabus Kurikulum 2004. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Menegah.

_____________________________ . (2006). Daftar Silabus Fisika KTSP 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hamalik, O. (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung Sinar Baru Algesindo.

__________.  (2004). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Ibrahim, M dan Nur, M. (2004). Pengajaran Berbasis Masalah. Surabaya: University Press.

Kardi, S. dan Nur, M. (2000). Pengajaran Langsung. Surabaya: UNESA University Press.

Komaruddin (2000)  Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara

Murphy, M.G. and Kaufman, D.M.(1990). Adapting Problem-Based Learning to Maximize Effectiveness in Teaching Basic Sciences in Health Profession Faculties. Tersedia http://www.ntlf.com/html/pi/9812/pbl 1. html

Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi Pertama. Jakarta: Bina Aksara.

Nur, M  & Wikandari, P. (2000). Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Pusat Studi MIPA Universitas Negeri Surabaya.

Ratnaningsih, N. (2003). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematika Siswa SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis Pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Ruseffendi, E. T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Rustaman, N dan Rustaman, A. (1997), Pokok-Pokok Pengajaran Biologi dan Kurikulum 1994, Jakarta: Pusbuk Depdikbud.

Sudjana, N. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

University of Southern California. (2001). Problem Based Learning. Tersedia:http://www.usc.edu/dept/education/scince edu/glosarryP.html#PBL.

University of  Washington: College of Education. (2001). Training for Indonesian Team Individu-Individu Contextual Teaching and Learning. Seatle

Wartono. (2003). Strategi Belajar Mengajar Fisika. Malang: Universitas Negeri Malang.

Wood, D.R. (1994), Problem Based – Learning : how to gain the most from PBL, Hamilton Canada,  McMaster University.

Woods, D.R. (1996). Problem-based Learning especially in the Context of Large Classes. http://www.chemeng.mcmaster.ca/pbl/pbl.htm

Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Pakar Raya

Desember 17, 2008 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Desember 17, 2008 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar